"Ming Ming si Kolibri Petualang"


Ming Ming adalah seekor anak burung kolibri. Ia gemar sekali bertualang. Ming Ming yang hanya diasuh oleh induk betinanya ini, seringkali tak mendengarkan petuah induknya yang melarang dirinya pergi terlalu jauh dari sarang karena ia masihlah sangat muda sementara di luar sana ada begitu banyak bahaya yang mengancam.

“Tapi, Ibu, aku hanya ingin menyesap madu bunga-bunga nan indah di ladang bunga seberang hutan,” ujar Ming Ming memberi alasan pada induknya. “Di daerah dekat sarang kita tidak ada bunga-bunga seindah ladang bunga di sana.”

“Iya, Nak, tapi tunggulah kau besar sedikit,” induk Ming Ming berujar lembut sembari menyapu sayang kepala anaknya itu. “Ibu hanya khawatir karena seringkali terlihat putra Adam dan putri Hawa mendatangi tempat tersebut. Bagaimana jika mereka menangkapmu?”

Ming Ming akhirnya hanya diam saja jika diberi jawaban seperti itu oleh induknya.

Tapi jangan salah... Bukan Ming Ming namanya jika ia akan begitu saja menurut petuah induknya. Ia sudah terlanjur menyukai petualangan kecilnya ke ladang bunga seberang hutan. Itu karena di sana memang terdapat bunga-bunga yang memekar nan indah, tentunya madu yang disesap oleh Ming Ming pun juga sangatlah manis. Karena itulah ia suka. Ming Ming memang menggemari manisnya madu.

“Nantilah ketika Ibu sedang lengah baru aku pergi ke sana lagi,” bisik Ming Ming dalam hati.

Dan benar saja, ketika induknya sedang sibuk melakukan pekerjaannya, Ming Ming langsung mengambil ancang-ancang untuk terbang memulai petualangannya ke ladang bunga indah. Sepanjang perjalanan menuju ke sana Ming Ming sudah membayangkan rasa manis bunga-bunga yang tumbuh indah di ladang bunga yang akan disesapnya nanti. “Hmm... Srrrp, manisnya,” liurnya bahkan sampai menetes membayangkannya.

Tidak tunggu lama, selepas Ming Ming sampai di ladang bunga, ia langsung terbang ke sana ke mari menghampiri bunga-bunga indah untuk disesapi madunya. Beberapa puluh menit Ming Ming  tenggelam dalam aktivitasnya yang mengasyikkan itu.

“Akan kusesapi madu-madu kalian semua, wahai bunga-bunga indah,” seru Ming Ming dengan riang.

Tapi celakalah bagi Ming Ming, saking asyiknya menyesap madu, ia tidak menyadari ternyata ada seorang putra Adam yang terus memperhatikannya. Bulu Ming Ming yang memang sangat cantik membuat dia berniat menangkap Ming Ming si Kolibri Petualang itu. Dan dengan Ming Ming yang tidak memperhatikan sekelilingnya, tidaklah sulit untuk menangkapnya.

Haph!

Ming Ming masuk dalam perangkap. Ming Ming terkejut mendapati dirinya telah berada di dalam jaring perangkap. Ia meronta menggeliat, namun jaring tersebut terlalu kuat untuk bisa diterobosnya.



“Matilah aku,” cerocosnya mulai menyesali kenakalannya tidak mengindahkan petuah induknya. “Ibu, Ibu, tolonglah aku, Ibu. Akan diapakan aku nanti, Ibu?” jeritnya lara.

Ming Ming terus merasa khawatir, bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada dirinya setelah tertangkap oleh pria itu.

Tapi rupanya pria itu hanyalah seseorang yang gemar memelihara burung-burung liar. Di rumahnya terdapat berbagai macam burung di dalam sangkar-sangkar. Ming Ming dimasukkan ke dalam salah satu sangkar tersebut. Tak lupa pria itu juga mencarikan madu untuk diberi ke tempat makan burung kolibri, tentunya agar Ming Ming merasa betah.

Dan, ya, tentu saja... Ming Ming berkicau riang karena rupanya ia hanya akan dipelihara dan bukan dibunuh. Belum lagi ia juga diberi madu-madu yang rasanya luar biasa manis. “Wah, enaknya hidupku,” pikirnya polos.

Satu, dua, tiga hari dilaluinya dengan riang. Makan, tidur, dan kadang juga mengobrol dengan burung-burung tetangga sangkarnya.

Tapi memasuki bulan ke dua ia tinggal di rumah barunya, Ming Ming akhirnya merasa jenuh.

“Wahai kalian kawanku para burung, tidakkah kalian bosan tinggal di sini?” tanyanya.

“Tidak juga,” balas Nunu, burung nuri tetangga sangkar sebelah kiri Ming Ming, "Aku sudah sekian lama berada dalam sangkar ini.”

“Aku juga tidak. Setiap hari hanya tinggal makan dan tidur yang disediakan oleh putra Adam itu, bagaimana mungkin aku bosan?” tambah si Layang, yang sangkarnya tepat di hadapan sangkar Ming Ming, turut membenarkan perkataan Nuri.

“Justru itu, aku bosan setiap hari hanya tinggal menerima apa yang diberikan padaku,” ujar Ming Ming lemas setelah mendengar jawaban kawannya sesama burung dalam sangkar, “Aku rindu melakukan petualangan kecilku terbang ke sana ke mari menghampiri bunga-bunga. Aku juga sangat merindukan indukku.”

Beberapa hari kemudian dihabisi Ming Ming dalam kegelisahan. Tidak lagi terdengar kicauan riang darinya.

“Aku ingin pulang. Keluar dari sini...” lirihnya.

Dan Ming Ming akhirnya membulatkan tekad. Pokoknya bagaimanapun caranya ia harus keluar dari sangkarnya dan kembali ke sarangnya.

Ia mencari-cari kesempatan ketika pria tersebut lengah dalam mengunci sangkarnya. Dengan sabar dinantikannya saat tersebut, walau bulan demi bulan berlalu. Tidak dipedulikannya celotehan burung-burung lain yang menyuruhnya mengurungkan niat ataupun mencibirnya karena terlalu tinggi bermimpi.

“Sudahlah, lupakan saja keinginanmu, kolibri kecil,” cibir Koko, si kakatua, “Untuk apa kau meninggalkan tempat yang sudah memberikanmu kemudahan ini?”

“Benar. Lagipula bagaimana kau akan bisa keluar dari sangkarmu? Sangkar itu terpasang kokoh,” tambah Layang.

“Aku tahu itu. Tapi entah kenapa, batinku tidak bisa membenarkan diriku yang terus-menerus hanya menerima segala sesuatunya tanpa berbuat apapun,” jawab Ming Ming.

Dan akhirnya suatu hari, putra Adam lupa mengunci sangkar Ming Ming setelah membersihkan sangkar tersebut. Ming Ming pun tidak menunda-nunda memanfaatkan kesempatan yang telah lama dinantikannya tersebut. Ia langsung keluar dari sangkar kecilnya berusaha kembali menuju alam bebas. Tak lupa diajaknya pula kawan-kawannya sesama burung yang lain, ia mencoba membantu membukakan kunci sangkar mereka. Tapi rupanya mereka tidak ingin beranjak pergi ke manapun.

“Pergilah kau, kolibri kecil, jika kau memang hendak pergi. Kami tidak akan meninggalkan tempat ini. Di luar sana lebih banyak bahaya-bahaya yang justru mengancam kelangsungan hidup kami daripada tinggal di tempat ini,” Koko mewakili burung-burung lainnya memberi jawaban yang membuat Ming Ming geleng-geleng kecewa.

Ming Ming pun terbang meninggalkan tempat yang telah mengurungnya selama berbulan-bulan. Ia berusaha mencari-cari jalannya untuk bisa pulang kembali ke sarangnya tempat ia tinggal bersama induknya. Untuk beberapa lama ia hanya berputar-putar di daerah yang sangat asing baginya, ia nyaris menyerah dan mulai menyesali keputusannya meninggalkan tempat putra Adam tersebut. Tapi kemudian ia kembali mendengarkan kata-kata batinnya yang menolak untuk hidup dengan terus menerus disuapi segala sesuatunya.

“Itu bukanlah hidup,” pikirnya dalam hati. “Aku merasa hidup ketika aku melakukan petualangan-petualangan kecilku. Tak mengetahui apa yang akan aku temui di jalan di depanku, tapi aku terus saja berjalan, karena senang rasanya ketika yang aku temukan adalah sesuatu yang luar biasa misalnya saat aku menemukan ladang bunga nan indah itu. Ataupun ketika aku menemukan sesuatu yang mengerikan misalnya tertangkap oleh putra Adam kala itu, dan aku bisa memetik pelajaran untuk tak selalu lupa awas diri ketika berada di alam bebas,” lanjut Ming Ming menyemangati dirinya.

Dengan semangat yang kembali membanjiri dirinya, Ming Ming, si kolibri petualang, menghabiskan sisa hidupnya dengan terus mencari jalan pulang menuju sangkarnya. Walaupun sangkar tempatnya dulu tinggal bersama induknya tidak ia temukan sampai akhir hayatnya, Ming Ming tidak pernah putus semangat. Ia tidak terus menerus menengok ke belakang meratapi kesalahannya yang tidak mengindahkan petuah induknya hingga akhirnya mereka terpisah. Oh, dia menyesalinya, sungguh sangat menyesalinya. Tapi ia tidak terpuruk meratapinya dan membiarkan rasa penyesalan tersebut mengaburkan masa depan lebih cerah yang bisa direngkuhnya.

Ming Ming menghabiskan sisa hidupnya dengan terus melakukan petualangan-petualangannya. Ia tidak takut akan petualangan meskipun pernah tersandung karenanya. Ia pun bertemu dengan beragam macam makhluk hidup lainnya yang banyak mengajarkannya tentang hidup. Ia juga bertemu dengan kolibri-kolibri lain dan bahkan ia pun memiliki bayi-bayi kolibri miliknya sendiri yang ia asuh penuh suka cita dan ia ajarkan tentang kehidupan di alam raya ini.

Fakta kolibri:
»Kolibri adalah burung yang bersedia makan dari alat pemberi makan burung kolibri, namun mereka tidak selamanya ingin menerima begitu saja makanan tersebut. Mereka akan ingin untuk menyesap sendiri madu-madu dari bunga-bunga yang mereka hampiri.
»Kolibri tidak membaca buku tuntunan hidup tentang apa yang mesti mereka kerjakan, mereka hanya  terdorong untuk mengerjakan apa yang mereka inginkan.

Hikmah cerita:
»Kita sebagai manusia, janganlah mau hanya menerima apa yang telah dicecarkan kepada kita. Seperti pelajaran dari kolibri kecil yang bisa kita petik melalui fabel di atas:
“Hidup adalah ketika kita melakukan berbagai petualangan. Tak mengetahui apa yang akan kita temui di depan jalan, tapi kita terus saja berjalan. Memetik kebahagiaan ketika yang kita temui adalah hal-hal indah. Memetik pelajaran ketika yang kita temui adalah halang rintang. Namun yang menjadi intinya adalah, hiduplah dengan berjalan dengan kaki sendiri bukan dengan dijunjung oleh orang lain. Jangan takut kaki Anda tersandung ketika berjalan sendiri, justru saat lagi dijunjung orang dan Anda terjatuh, maka sakitnya lebih bukan kepalang.”


Source : http://www.termotivasi.com/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kisah 3 Orang Tukang Bangunan"

"Sudah Berusaha Tapi Kok Susah Suksesnya? Mungkin Ini Penyebabnya"

"6 Rasa Sakit yang Lebih Menyakitkan dari Melahirkan!"