"Jagalah Ginjalmu"


Ginjal berfungsi untuk membuang produk limbah dan kelebihan cairan dari tubuh. Setiap hari kedua ginjal Anda mengeluarkan sekitar 1,4 liter urin dan membersihkan tubuh dari bahan-bahan kimia berbahaya. Selain itu, ginjal Anda juga memproduksi hormon-hormon yang mengatur tekanan darah, memproduksi sel darah merah, mengatur keasaman, dan mempengaruhi metabolisme kalsium dan elektrolit. Bila ginjal Anda rusak, Anda tidak bisa memulihkannya. Satu-satunya terapi untuk ginjal yang sudah rusak adalah dengan menggantinya melalui operasi yang disebut cangkok atau transplantasi ginjal. Ginjal adalah organ yang paling banyak dicangkok. Setiap tahun ada ribuan orang Indonesia yang menjalani cangkok ginjal, yang biayanya mencapai ratusan juta rupiah untuk setiap kali operasi. Oleh karena itu, penting sekali bagi Anda untuk menjaga ginjal Anda tetap sehat.



Gagal ginjal
Jika ginjal Anda tiba-tiba bekerja sangat kurang efisien, Anda disebut menderita gagal ginjal akut (acute renal failure/ARF). Penyebabnya antara lain karena dehidrasi, pendarahan, cedera, keracunan dan komplikasi penyakit. Kondisi ini jarang namun bisa mematikan jika tidak segera ditangani. Yang jauh lebih umum adalah penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD) yang berkembang secara bertahap dari beberapa bulan sampai beberapa tahun.

Semakin tua Anda, semakin besar kemungkinan Anda memiliki penyakit ginjal kronis. Sekitar setengah dari lansia berusia di atas 75 memiliki CKD. Diabetes dan tekanan darah tinggi juga meningkatkan risiko CKD. Selain disebabkan oleh tekanan darah tinggi , CKD juga meningkatkan tekanan darah, yang pada gilirannya akan meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung.

Jika CKD berlanjut parah, ginjal Anda menjadi hampir tidak berfungsi atau berhenti berfungsi sama sekali, kondisi ini disebut gagal ginjal atau dalam bahasa medis disebut ESRD (end-stage renal disease). Pada tahap ini Anda memerlukan cuci darah (hemodialisis) atau cangkok ginjal untuk menjaga kelangsungan hidup. Untungnya bagi kebanyakan penderita CKD, penanganan yang tepat dapat memperlambat perkembangannya sehingga tidak sampai pada tahap gagal ginjal.

Bagaimana CKD didiagnosis?
Diagnosis CKD biasanya ditegakkan dengan tes yang disebut GFR (Glomerural Filtration Rate) atau dalam bahasa Indonesianya disebut LFG (Laju Filtrasi Glomerulus). Tes darah ini mengukur bahan kimia yang disebut kreatinin, yang merupakan hasil dari metabolisme otot. Kreatinin biasanya dibersihkan dari darah oleh ginjal. Jika ginjal Anda tidak bekerja dengan baik dan glomeruli (filter ginjal) tidak menyaring darah sebanyak normal, tingkat kreatinin dalam darah naik. GFR dihitung dengan mempertimbangkan usia, jenis kelamin dan kreatinin darah Anda.

5 Tahap Penyakit Ginjal Kronis
TahapTingkat GFRKeterangan
Tahap 190 mL/menit atau lebihGinjal sehat atau ginjal rusak dengan GFR normal
Tahap 260 - 89 mL/menitKerusakan ginjal dan penurunan ringan GFR
Tahap 330 – 59 mL/menitPenurunan GFR sedang
Tahap 415 - 29 mL/menitPenurunan GFR berat
Tahap 5Kurang dari 15 mL/menit atau perlu dialisisGagal ginjal

GFR normal adalah 90 ke atas. GFR 60-89 adalah penurunan fungsi ginjal ringan. Pada orang yang sehat sekalipun, fungsi ginjal menurun seiring dengan penuaan. Anda mulai dianggap memiliki CKD ketika GFR Anda di bawah 60 selama tiga bulan atau lebih. GFR 30-59 adalah CKD moderat dan di bawah 30 adalah CKD berat. GFR kurang dari 15 adalah tanda gagal ginjal dan merupakan kedaruratan medis yang perlu penanganan segera. Jika hasil tes darah Anda positif CKD, dokter mungkin perlu memeriksa urin Anda dan melakukan beberapa tes darah dan tes diagnostik lainnya untuk mendapatkan gambaran lengkap. Bukti kerusakan ginjal dapat terlihat pada MRI, CT scan, USG, atau sinar-X kontras.

Gejala CKD
Pada tahap awal, CKD mungkin tidak memberikan gejala, itulah mengapa tes GFR perlu dilakukan sebelum terlambat. Ketika CKD semakin parah (moderat) atau lebih buruk, gejala-gejala mulai berkembang. Gejala pada awalnya cenderung tidak spesifik, seperti merasa lelah, lemas dan tidak enak badan. Ketika semakin parah CKD dapat ditandai dengan:


  • Kesulitan berpikir.
  • Nafsu makan yang buruk.
  • Penurunan berat badan.
  • Kulit kering dan gatal.
  • Kram otot.
  • Retensi cairan yang menyebabkan kaki membengkak.
  • Bengkak di sekitar mata, terutama setelah bangun pagi.
  • Kebutuhan untuk buang air kecil lebih sering dari biasanya.
  • Menjadi pucat karena anemia.

Jika fungsi ginjal terus menurun maka akan terjadi ketidakseimbangan mineral dan kimiawi dalam aliran darah yang menimbulkan berbagai gejala, termasuk penipisan atau fraktur tulang karena gangguan kalsium dan fosfat.

Mencegah dan mengobati CKD
Pencegahan CKD adalah dengan mengelola berbagai kondisi yang menjadi penyebabnya. Misalnya, kontrol gula darah bagi penderita diabetes, kontrol tekanan darah bagi penderita hipertensi. Obat-obatan hipertensi dari kelompok yang disebut Angiotensin Converting Enzyme inhibitor (ACE inhibitor) atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB) selain menurunkan tekanan darah juga memiliki efek perlindungan ekstra pada ginjal. Setelah CKD berkembang, selain mengatasi penyebabnya, pengobatan juga diperlukan untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskuler. Penderita CKD memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler seperti penyakit jantung, stroke, dan penyakit pembuluh darah perifer. Penderita CKD bahkan dua puluh kali lebih mungkin untuk meninggal akibat masalah kardiovaskuler yang terkait dibandingkan dari gagal ginjal. Obat untuk menurunkan kadar kolesterol diperlukan dalam banyak kasus.

Gaya hidup berikut diperlukan tidak hanya untuk pencegahan dan pengobatan CKD tapi juga untuk kesehatan Anda secara keseluruhan:


  • Berhenti merokok jika Anda merokok
  • Makan makanan yang sehat dengan kadar garam yang rendah.
  • Jaga berat badan dan lingkar perut Anda.
  • Beraktivitas fisik secara teratur.
  • Menjaga hidrasi. Minumlah sekitar 8 gelas sehari atau sesuai kebutuhan.


Source : http://majalahkesehatan.com/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kisah 3 Orang Tukang Bangunan"

"Sudah Berusaha Tapi Kok Susah Suksesnya? Mungkin Ini Penyebabnya"

"6 Rasa Sakit yang Lebih Menyakitkan dari Melahirkan!"