Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2009

Bapak Tua

Gambar
Siang hari, suasana pelabuhan Tanjung Priok ini sungguh sangat menyengat. Panas dan gersang sudah merupakan cuaca yang akrab ditemui di sini. Dengan langkah malas aku menuju ke warung nasi terdekat untuk mengisi perut ini. Terlihat di sekitarku kegiatan bongkar muat di pelabuhan. Kontainer yang naik dan turun dari kapal laut, para pekerja yang sibuk mengangkut barang yang akan dikirimkan, dan para mandor yang sibuk berteriak mengatur para pekerjanya. Truk besar kecil, truk kontainer, forklift dan kendaraan lainnya yang tak hentinya berlalu lalang. Kegiatan di sini tak pernah ada kata diam.

Selesai makan, aku langsung menuju kantorku. "Lebih baik aku di kantor yang sejuk daripada di luar yang sudah pasti panas dan membuat berkeringat ini." Ah, sejenak kulihat pekerja-pekerja yang tanpa komando berjalan teratur menuju sebuah kontainer. Rupanya ada perusahaan yang sedang melakukan bongkar muat gula pasir. "Pasti ini impor deh, dan yang sudah pasti ketahuan ruginya dalah pa…

Lontong Isi

Gambar
Cerita saya terinspirasi dari kegiatan saya pergi bekerja sehari-hari menggunakan kereta api kelas Ekonomi Bekasi – Jakarta Kota. Letak kantor yang cukup jauh membuat kereta jadi satu-satunya pilihan kendaraan yang `serba lebih'; lebih cepat, lebih irit, lebih lancar, meski ada lebih lainnya yang tidak menguntungkan; lebih desak-desakan, lebih rawan pencopet, lebih banyak laki-laki iseng, dan lebih nyebelin kalau ternyata keretanya telat, atau bahkan mati di tengah-tengah jalan. Tapi topik cerita saya bukan membahas tentang kereta api kelas ekonomi ini.


Pagi ini, saya melihat seorang nenek yang sudah renta duduk bersandar pada salah satu tiang penyangga stasiun.Bajunya kumal dan lusuh. Ia hanya diam, di depannya tidak ada kaleng atau wadah apapun untuk menaruh uang. Bisa saya artikan, ia tidak sedang meminta-minta. Walau begitu, ada saja orang yang menjejalkan uang ke tangan sang nenek, lalu nenek itu mengucapkan terima kasih.

Entah keinginan dari mana, saya menghampiri nenek ters…

Berani Mengambil Resiko

Gambar
*Bila ditulis dalam bahasa Cina, kata krisis terdiri dari dua huruf. Yang satu mewakili ancaman dan yang satu lagi mewakili peluang* - *John F. Kennedy*.

Resiko selalu menakutkan karena ia menawarkan seratus kemungkinan, seribu ketidakpastian dan sejuta kegagalan. Bayang-bayang ini selalu mengerikan bagi siapa saja. Tapi tahukah Anda bahwa resiko selalu menyembunyikan wajah satunya : peluang ? Peluang selalu menggoda siapa saja karena ia menjanjikan seratus kemungkinan, seribu harapan dan sejuta keberhasilan.



Jangan pernah memandang koin kehidupan dari sisi resiko, tapi baliklah, maka Anda akan menemukan sisi peluang.
Mampukah Anda membalik takdir Anda dari resiko menjadi peluang ? Ingat, tidak banyak orang yang berani melakukannya.

Sekitar 100 tahun lalu, seorang dokter tua dari desa pergi ke kota . Setelah mengikatkan kudanya dan masuk ke dalam sebuah toko obat, dia mulai berbicara dengan pegawai muda toko obat itu. Dokter tua itu mencoba menjual sesuatu kepada pemuda itu. Beberap…

Proses Kehidupan

Gambar
Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu Allah SWT yang menetapkan. Kita hanya punya dua kewajiban, yaitu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah Allah SWT.



Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya, sebetulnya bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka karena menang kalah itu akan selalu digilir kepada siapapun. Tapi yang paling penting baginya adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena Allah dan selama berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu berbuat seperti ini sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada.



Ketika berjualan dalam rangka mencari nafkah untuk keluarga, maka masalah yang terpenting bagi kita bukanlah uang dari jualan itu, kar…