"Susu Dapat Memperpendek Umur"


Slogan yang biasa kita dengar adalah “susu menguatkan tulang”. Hal itu karena susu adalah sumber kalsium, yang penting untuk pembentukan tulang. Namun kenyataannya dapat berbeda, minum beberapa gelas susu setiap hari dapat meningkatkan risiko patah tulang, bahkan lebih buruk lagi, meningkatkan risiko kematian. Lho, kok bisa begitu?



Sebuah studi yang dipimpin oleh Prof Karl Michaelsson dari Universitas Uppsala, Swedia, telah memantau 61.433 wanita dan 45.339 laki-laki selama 11 s.d. 20 tahun untuk melacak kebiasaan diet dan kesehatan tulang mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi wanita, konsumsi susu tinggi tidak berkaitan dengan penurunan risiko patah tulang. Bahkan, wanita yang minum lebih dari tiga gelas susu sehari ditemukan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan wanita yang minum kurang dari satu gelas. Pria menunjukkan hasil yang serupa dengan hubungan yang bahkan lebih nyata antara konsumsi susu tinggi dan risiko kematian yang lebih tinggi.

Temuan tersebut meragukan kebenaran saran agar memperbanyak konsumsi susu untuk mencegah patah tulang. Namun demikian, perlu konfirmasi dari penelitian independen sebelum kita dapat mengambil kesimpulan yang tegas.

Hasil penelitian tidak berlaku untuk semua susu atau produk susu. Konsumsi tinggi produk susu fermentasi seperti keju dan yoghurt tidak terkait dengan risiko patah tulang dan kematian dini. Penyebabnya mungkin karena produk susu tersebut memiliki galaktosa yang rendah. Galaktosa diketahui dapat menyebabkan stres dan peradangan sel. “Kami telah menemukan korelasi antara konsumsi susu dengan tanda-tanda biologis dari stres oksidatif dan peradangan,” tulis Michaelsson dan timnya.

Selama ini, banyak ilmuwan yang menyangsikan manfaat konsumsi susu untuk menurunkan risiko osteoporosis. Negara-negara dengan tingkat osteoporosis tertinggi seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa adalah konsumen susu terbesar di dunia. Beberapa penelitian sebelumnya mengenai peran susu untuk mencegah patah tulang dan pengaruhnya pada risiko kematian juga menunjukkan hasil yang bertentangan.

——————-

Sumber: Michaëlsson K, Wolk Alicja, Langenskiöld S, et al, “Milk intake and risk of mortality and fractures in women and men: cohort studies”. BMJ. 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kisah 3 Orang Tukang Bangunan"

"Sudah Berusaha Tapi Kok Susah Suksesnya? Mungkin Ini Penyebabnya"

"6 Rasa Sakit yang Lebih Menyakitkan dari Melahirkan!"