Postingan

"Orang Bebas adalah Mereka yang bertanggung jawab"

Di hari anda menyatakan bertanggung jawab atas semua tindakan anda, termasuk kegagalan, di saat itulah anda memahami arti kebebasan. Banyak orang mencari kebebasan dengan menyudutkan orang lain atas kegagalan yang terjadi. Ini bukanlah kebebasan. Ini adalah ketakutan. Bila anda telah bertekad menempuh jalan keberhasilan, yang anda perlukan adalah rasa bebas dan keberanian. Sungguh berbeda antara keberanian dengan ketakutan. Kebebasan melahirkan keberanian dan tanggung jawab. Anda tak pernah tiba di puncak dengan melemparkan tanggung jawab pada orang lain. Pepatah mengatakan, semakin tinggi cemara semakin kencang angin menerpa. Berdiri di puncak keberhasilan memerlukan keberanian yang tinggi. Bukan hanya karena persoalan yang anda hadapi semakin sulit. Namun, yang terpenting adalah anda harus mempertanggungjawab kan semuanya sendiri. Tak ada tempat lagi untuk meletakkan beban anda kecuali pundak anda sendiri. Semua itu membutuhkan satu kualitas, yaitu keberanian.

"Just Think"

Berangkat dari rumah jam 5.30, sampai di kantor bertemu dengan semua teman dan keluargaku. Mulai dari para security yang ramah dan penuh rasa hormat, sampai dengan para officce boy yang selalu siap untuk membantu kapanpun bagaikan serdadu perang yang hanya menunggu sepatah kata dari petingginya dan siap untuk mati memperjuangkannya. Sampai di ruangan bertemu dengan teman seperjuangan yang bahkan sudah bisa di bilang keluarga kedua selain yang di rumah ( ha... ha...ha... lucu bukan) and at the end kembali ke my lovely cubilcle yang sudah dua setengah tahun aku tempati… Hari ini di mulai lagi dengan kegiatan rutinitasku untuk membelai komputerku yang mungkin sudah bosan melihat wajaahku yang sok serius ini selallu memandanginya dan menjadi saksi kesenangan, kesedihan dan perjuanganku dalam mengarungi masa ini. Mungkin dialah benda yang paling sering melihat wajahku di banding semua benda yang ada di sekeliling ku akhir-akhir ini. Mulai lagi dengan printer lq-800 ku yang selalu menghi...

"Apa Pantas Berharap Surga?"

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah? Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan,...

Penjara Pikiran

Seekor belalang lama terkurung dalam satu kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu dengan belalang lain, namun dia heran mengapa belalang itu bisa lompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran dia bertanya, "Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku,padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?" Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan, "Dimanakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan." Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas. Sering kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan berun...

Knowing Better About Me

Beberapa hari ini saya sedang mengikuti sebuah program pengembangan karyawan di kantor. Sebuah program yang dirancang dengan sebuah pengalaman dan kualitas orang-orang yang sudah tidak diragukan lagi memiliki pengetahuan yang sangat baik di bidang itu. Training ini merupakan ajang share dari yang atas ke yang bawah, dari yang punya ilmu ke kita yang tidak punya ilmu, dan dari pembicara yang meng-inspire kita waktu demi waktu. I got a couple education, terutama mengenai mengetahui diriku dengan baik, I passed dua buah asesstment yang memetakan siapa sih sebenarnya diri kita. Mostly, keduanya menggambarkan hal yang sama bahwa saya bukanlah seorang yang brilliant. I am just an ordinary people with a spirit, dan motivasi tinggi untuk menjalannkannya. Dari kedua penilaian ini sepertinya keduanya menggambarkan hal yang sama mengenai siapa saya sebenarnya. Saya mendapatkan satu clue yang sama dari assestment ini, bahwa saya bukanlah seorang manusia yang suka berkompetisi dan tidak terlal...

AIM HIGH

"Bercita-citalah setinggi langit." ~ Pepatah Bijak Kalimat ini sangat populer di telinga saya sejak masih SD. Dari dulu sebenarnya anak-anak sudah diajarkan secara tidak langsung untuk bermimpi besar, bercita-cita yang tinggi. Tapi seiring berjalan waktu, dan semakin dewasa seseorang justru yang terjadi malah sebaliknya. Banyak orang justru tidak berani lagi bercita-cita setinggi langit saat ini, apalagi melihat situasi dan kondisi yang ada di lingkungannya, melihat keterbatasan dirinya, dan kekurangan lainnya yang dianggap sudah sangat tidak memungkinkan lagi untuk mempunyai tujuan yang besar. Mengapa Anda menjadi khawatir menetapkan tujuan yang besar? Apa yang membuat Anda takut untuk menetapkan target yang tinggi? Ada yang mengatakan, "Untuk apa punya tujuan besar, nanti kalau tidak tercapai bisa stres. Istilahnya kalau mimpi sampai lantai 10 kalau tidak terjangkau dan jatuh akan sangat sakit sekali." Dulu saya juga berpikir demikian, tapi...

Karet Gelang

Gambar
Suatu kali saya membutuhkan karet gelang, Satu saja. Shampoo yang akan saya bawa tutupnya sudah rusak. Harus dibungkus lagi dengan plastik lalu diikat dengan karet gelang. Kalau tidak bisa berabe. Isinya bisa tumpah ruah mengotori seisi tas. Tapi saya tidak menemukan satu pun karet gelang. Di lemari tidak ada. Di gantungan-gantungan baju tidak ada. Di kolong-kolong meja juga tidak ada. Saya jadi kelabakan. Apa tidak usah bawa shampoo, nanti saja beli di jalan. Tapi mana sempat, waktunya sudah mepet. Sudah ditunggu yang jemput lagi. Akhirnya saya coba dengan tali kasur, tidak bisa. Dipuntal-puntal pakai kantong plastik, juga tidak bisa. Waduh, karet gelang yang biasanya saya buang-buang, sekarang malah bikin saya bingung. Benda kecil yang sekilas tidak ada artinya, tiba-tiba menjadi begitu penting. Saya jadi teringat pada seorang teman waktu di Yogyakarta dulu. Dia tidak menonjol, apalagi berpengaruh. Sungguh, Sangat biasa-bisa saja. Dia hanya bisa mendengarkan saat orang-orang...